TERIMA KASIH CINTA
Masa
SMA sering dibilang sebagai masa yang paling indah dan menyenangkan yang penuh
sejuta cerita. Menikmati kehidupan tanpa beban yang hanya memikirkan
kesenangan dan diri sendiri, itulah Icha seorang anak dari keluarga sederhana tapi semua
keinginan nya selalu di penuhi oleh orang tua dan keluarga yang memanjakannya.
Icha sekolah jauh dari orang tua dan dia kos yang tidak jauh dari sekolah. Karena jauh
dari orang tua, dia selalu keluar kos bersama satu geng yang bernama “Geng Candy”
yang hanya berpoya-poya tanpa terbesit dipikiran mereka bagaimana susahnya
mencari uang. Dia dan temannya itu tidak pernah memikirkan perasaan orang
lain dan selalu menyakiti hati laki-laki yang suka serta mengaguminya terutama Icha yang
selalu mempermainkan dan memanfaatkan perasaan orang yang mencintai serta
memberi perhatian kepadanya.
Suatu
ketika Icha bertemu dengan seorang laki-laki sekolah di Pondok Pesantren yang
bernama Marchel, dia senang dan mengagumi Icha meskipun dia tahu sikap dan tingkah
laku Icha. Sampai akhirnya mereka pun pacaran, Icha hanya memanfaatkan Marchel karena Marchel yang begitu keren dan cool di mata para remaja, dia juga anak Vokalis
Band.
Marchel
sangat mencintai Icha bahkan apa yang dilakukan oleh Icha yang dianggap tidak sesuai selalu dilarang. suatu hari Marchel memberikan hadiah kepada Icha yang berisi 4 buah jilbab dan baju, dia berkata
kepada Icha, ”Aku berharap kamu memakai jilbab tersebut, tidak hanya sekali
pakai tapi untuk selamanya dan juga niat hanya kepada Allah SWT”. Icha hanya tersenyum dengan ucapan Marchel. Kata-kata
tersebut sering di ucapkan Marchel tanpa bosan, tapi tetap saja tidak di dengarkan
bahkan Icha selalu menyakiti hati Marchel.
Icha merasa tidak suka dengan sikap
Marchel yang mengaturnya untuk menutup aurat dan bersikap selayaknya wanita
saleha yang dia idamkan. Keluarga
Marchel sangat menyayangi Icha seperti kelurga sendiri bahkan selalu di
perhatikan oleh ibunya, ibu berkata kepada Icha, “ sekarang Icha anggap saja kami
orang tua sendiri dan jangan pernah malu untuk memanggil kami ayah dan ibu
karena kami menyayangimu seperti anak kami sendiri, wajahmu sangat mirip dengan kakak perempuan Marchel”. Icha menjawab, “
Ya Ibu, aku bahagia sekali karena kalian menyayangiku seperti keluarga
sendiri, Icha berharap kalian selalu memberikan perhatian kepada Icha ”. Tapi Perhatian orang tua Marchel tidak merubah sikap egois Icha yang
hanya bermain-main dengan suatu hubungan.
Tetapi Marchel
masih bertahan dengan sikap Icha yang tidak pernah ada untuk dirinya dan
tidak pernah menghargai sebagai seorang pacar. Icha berkata kepada Marchel, “Kenapa kamu bertahan dengan hubungn ini,
sedangkan aku hanya bisa menyakitimu dan tidak pernah menghargai dirimu?”. Marchel menjawab dengan nada lembut, “Aku menyayangimu dengan tulus dan aku yakin suatu saat kamu akan
mengerti apa itu kasih sayang yang sebenarnya”. Icha hanya diam dan tersenyum mendengar kata yang keluar dari suara lembut Marchel.
Setelah
pulang sekolah Icha dan teman-temannya pergi jalan-jalan bersama selingkuhan Icha. Di saat
itu pula Ibu Marchel menelpon untuk makan bersama di rumah, tapi Icha tidak bisa ikut
makan bersama tersebut karena dia bilang sibuk mengerjakan tugas kelompok.
Sampai akhirnya Marchel dan teman-teman melihat Icha bersama selingkuhannya itu
di dalam mobil bersama teman-temannya. Marchel hanya terdiam melihatnya karena dia merasa
malu dengan teman di dekatnya.
Setelah Icha di antar sampai kos, ternyata Marchel ada di belakang mobil. Marchel
mendekati Icha lalu berkata, “ jika kamu belum bisa menghargai aku sebagai
pacarmu, aku mohon hargai ibuku yang sangat menyayangimu. Kau tahu betapa
dia sangat menginginkan makan bersama denganmu, masak spesial untukmu tapi kau tega membohonginya”. Icha hanya terdiam tanpa satu kata pun, Marchel berkata, “Sudah cukup kau buat
aku seperti ini, mungkin aku tidak bisa merubah sikap egoismu itu”, Icha
menjawab, “ aku emang egois, aku emang tidak pernah menghargai persaan orang lain, aku mohon maaf kalau aku hanya membuat kalian
sakit hati padaku”. Marchel menjawab, “Aku tulus mencintaimu tapi rasa cinta
dan kepercayaanku tidak pernah kau hargai sedikit pun, satu tahun kita pacaran
tapi pengorbananku selama ini tidak pernah kau lihat”.
Melihat
begitu tulus cinta Marchel membuat Icha meneteskan air mata dan begitu pula
dengan Marchel seorang laki-laki yang dikagumi oleh wanita juga meneteskan air
mata. Marchel berkata, “ mungkin hubungan kita sampai disini saja, aku berharap
kamu bisa merubah sikapmu itu dan bisa menghargai orang lain. Satu hal yang
perlu kamu tahu bahwa aku sangat menyayangimu tapi saat ini aku merasa tidak
sanggup lagi bersamamu”. Nesa menjawab, “Terima kasih selama ini kamu sudah
menyayangiku dengan tulus dan memberi perhatian mu, jujur selama ini hanya
kamu laki-laki yang selalu mengerti aku”. Marchel pun menjawab, “Kamu tidak
perlu berterima kasih padaku, aku tulus memberi perhatianku untukmu.
Meskipun kita tidak mempunyai hubungan special, aku tetap temanmu dan juga
kakak untukmu”. Marchel memberikan sebuah kotak kepada Icha, dengan tangan yang begitu kaku Icha menerima kotak tersebut. Marchel berkata, "Kotak ini aku siapkan untukmu dan akan ku berikan disaat dirimu kerumah makan siang bersama, aku berharap Icha mau menerimanya walaupun tidak berharga bagimu serta disimpan dengan sebaik mungkin". Icha menjawab, "Terima kasih kamu sudah sangat perhatian padaku dan aku akan menjaga nmenyimpan pemberianmu ini".
Icha
tidak bisa menahan air matanya lalu dia berlari menuju kamar teman satu kosnya
yaitu Fitry. Dia memeluk erat fitry dan berkata kalau dia sangat menyesali
perbuatan yang dilakukan selama ini terhadap Marchel, “Sekarang aku sadar
betapa tulusnya cinta Marchel padaku tapi penyesalan ini sudah terlambat
karena Marchel sudah pergi dariku”. Fitry berkata, “Sudah jangan kamu sesali
yang sudah terjadi, mulai sekarang kamu harus merubah sikap egoismu itu. Mungkin
Marchel bukan yang terbaik untukmu, rencana Allah itu jauh lebih indah dari
yang kita bayangkan”. Icha terus menangis karena dia sangat menyesali perbuatannya
selama ini, menyia-nyiakan orang yang sangat menyayangi dirinya dengan tulus.
Icha membuka kotak yang diberikan Marchel dan begitu kagetnya Icha melihat isi kotak tersebut kalung dan cincin, Icha sangat menyukainya dan membuat hatinya semakin sedih. Siang
berlalu tapi Icha masih belum bisa melepas penyesalannya dan terus termenung memikirkan
perkataan Marchel padanya. Terdengar suara handphone berdering ternyata Marchel
menelpon, perhatian Marchel membuat Icha bingung seperti tidak terjadi apa-apa. Icha mengatakan permohonan maaf kepada Marchel karena perbuatannya selama ini,
Marchel menjawab, “ No problem,,, tapi aku hanya minta satu hal pada mu, aku
minta mulai saat ini kamu bisa merubah sikap dan tingkah lakumu itu. Masa
depan kita masih panjang, kita jalani kehidupan kita masing-masing dan jika
Allah SWT mengizinkan kita untuk bersama, suatu saat kita akan bersama
lagi”. Icha menjawab, “ Iya,,,aku berjanji akan meerubah sikap dan tingkah laku
yang selama ini selalu menyakiti orang terutama menyakiti kamu. Aku juga mohon
maaf dengan sikap ku selama ini dan tolong sampaikan salam untuk keluarga di
rumah”. Marchel pun berkata, “Itulah harapan ku pada mu. Never mine, selama ini
aku selalu memaafkanmu dan jangan pernah menganggap hubungan kita sampai
disini saja karena kita masih bisa jadi keluarga. Lagi pula orang tuaku sudah sangat menyayangimu dan menganggap sebagai anak sendiri. oh iya,,,pakai dan jaga baik-baik pemberian dariku, Oke". Icha terus menangis meratapi kesalahan-kesalahan yang dia perbuat terhadap Marchel selama menjalin hubungan tanpa menghiraukan pembicaraan Marchel di Handphone.